Kendalikan Intonasi Suara dan Gunakan Suara Ramah

Failed!

Hari ini saya gagal menerapkan kaidah-kaidah komunikasi produktif karena jengkel. 😥

Jengkel anak ga mau tidur siang, jengkel karena anak BAB sembarangan, pupnya berceceran dimana-mana.. 😑

Tak terhindarkan teriakan-teriakan kemarahan yang berujung pada penyesalan. Ah kemana teori-teori parenting itu saat emosi meluap..

Maafkan amma ya, nan 😥

#level1

#day2

#tantangan10hari 

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Iklan
Dipublikasi di Kelas Bunda Sayang | Tag | Meninggalkan komentar

Keep It Short and Simple

Materi pertama kelas Bunda Sayang sudah dibagikan dan dibahas sepuluh hari yang lalu, tapi saya belum juga memulai untuk memenuhi tantangan.

Komunikasi merupakan satu hal yang penting dalam hidup kita. Bahkan sering kali konflik muncul karena kesalahan kita dalam berkomunikasi. 
-Keep It Short and Simple (KISS)-

Seringkali saya berbicara panjang dan lebar kepada sulung kami, berharap dia mampu memahami dan segera melaksanakan apa yang saya ingin ia kerjakan.

*Saat itu Kinanti sudah menyelesaikan makan siangnya

Saya: “Inan kalau habis makan itu piringnya langsung ditarok di tempat cucian piring ya, nak. Supaya dst..dst…”

*Kinan cuek aja, tetap bermain-main dengan alat makannya.

Beberapa menit kemudian

Saya: “Inan piringnya tarok di tempat cucian piring ya, nak”

Kinan: “Iyaaa” (dan langsung beranjak ke tempat cucian piring).

Alhamdulillah..

Cukup sesederhana itu ternyata 🙂
#level1

#day1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Dipublikasi di Kelas Bunda Sayang | Meninggalkan komentar

Aliran Rasa 

Sungguh bersyukur sekali bertemu kelas matrikulasi

Menjadi jawaban atas kebingungan diri

Menunjukkan jalan ke arah solusi yang sudah lama dicari

Menjadi ibu yang penuh percaya diri akan segala potensi yang dimiliki

Terimakasih atas segala bekal diri yang sudah dibagi

Terimakasih atas kehangatan yang diberi layaknya mentari

Semoga kami mampu ‘keras’ pada diri sendiri untuk melaksanakan apa yang sudah dipelajari

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

NHW#8 Misi Hidup dan Produktivitas Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Pengasuhan dan pendidikan anak
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

  • Pendidik anak dan para ibu
  • Praktisi Parenting
  • Inspirator kebaikan

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

  • Mendalami dunia pengasuhan dan pendidikan anak
  • Belajar public speaking
  • Membuat komunitas belajar para ibu

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

  • Sekolah dan lingkungan ramah anak
  • Komunitas profesional dibidang parenting

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Saya ingin mempunyai sekolah ramah anak yang berkualitas dan berbiaya murah sehingga terjangkau oleh semua lapisan ekonomi masyarakat Indonesia.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

  • Komunitas belajar ibu-ibu rumah tangga
  • Membangun daycare ramah anak
  • Kuliah manajemen pendidikan atau sejenisnya
  • Membangun sekolah ramah anak

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Terbentuknya komunitas belajar para ibu di lingkungan saya.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

NHW#7 Tahapan Menuju Bunda Produktif Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7.  Selamat, anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar.
Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping.
Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman  tulis di NHW#1 – NHW #6

Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.
🍀 Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :
1⃣masuk ke http://www.temubakat.com
2⃣isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional

jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya
3⃣Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yg anda rasakan selama ini.
4⃣ Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7

st30_Ade Yuniarti
🍀 Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
Kuadran  1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2  : Aktivitas yang anda SUKA tetapi  andaTIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

 

BISA SUKA TIDAK SUKA
Memasak lauk-pauk dan cemilan Menyetrika pakaian
Menulis Mencuci piring
Public Speaking Menjemur pakaian
Event Organizer Membicarakan orang lain
Mengasuh anak-anak
Mendidik anak-anak
Bermain dengan anak
Berkomunitas
Hiking
Membereskan rumah
Membaca buku
Travelling
Bersepeda
Hiking
Berdagang
TIDAK BISA Menyetir mobil Beternak
Membaca Al-Qur’an yang baik dan benar Pemprograman
Mengajar membaca Al-Qur-an Sepak bola
Baking Politik
Marketting
Crafting
Merajut
Berenang
Make up
Kreasi hijab
Bela diri
Mendongeng
Berscocok tanam
Design
Berdiskusi dengan suami
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

NHW#6 Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

Di kelas kali ini kami diingatkan kembali untuk memperbaiki dan memperbaharui niat. Sebenarnya apa motivasi kami memilih peran yang kami pilih saat ini. Hanya asal kerja untuk menggugurkan kewajiban yang sering berujung pada kejenuhan atau motivasi kompetisi  yang membuat stress karena kesuksesan orang lain atau karena panggilan hati yang membuat kita bergairah dalam menjalani peran tanpa keluhan.

“Belajar menjadi manajer keluarga yang handal.” Inilah tugas yang diberikan kepada kami kali ini.
Mengapa menjadi manajer keluarga yang handal? Karena hal ini akan mempermudah kami untuk menemukan peran hidup kami dan semoga mempermudah kami mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS.  Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak pernah ada habisnya membuat kita merasa sibuk terus, sehingga seolah tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri, meningkatkan kompetensi diri, sehingga tercapailah sebuah peran.

Maka tahapan-tahapan berikut yang harus kami tempuh:

Pertama, tuliskan tiga aktivitas yang paling penting, dan tiga aktivitas yang paling tidak penting

Aktivitas yang penting:

  • Beribadah
  • Mendidik dan mengasuh anak
  • Berdagang

Aktivitas yang tidak penting:

  • Tidur berlebihan
  • Berlama-lama mantengin sosial media
  • Berbicara/chatting yang tidak bermanfaat

    Kedua, waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

    Keduanya telah menyita waktu saya, tapi sepertinya sebagian besar masih habis oleh aktivitas yang tidak penting. 😥

    Ketiga, jadikan tiga aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras

    Beribadah 

    • Rutin mengikuti kegiatan belajar tahsin 
    • Rutin mengikuti kajian
    • Berpartisipasi aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan
    • Aktif menulis dan belajar tentang menulis yang baik dan benar
    • Mengajarkan anak mengaji

    Mendidik dan mengasuh anak

    • Membuat kurikulum pendidikan anak
    • Menstimulasi anak dengan permainan yang melatih motorik kasar dan halus
    • Rutin membacakan buku
    • Latihan menulis, mewarnai, dll
    • Rutin menuntaskan membaca buku tentang pendidikan anak

    Berdagang

    • Belajar tentang marketting
    • Belajar tentang meng-edit foto agar tampak menarik
    • Belajar pencatatan keuangan yang baik dan benar

    Keempat, kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

    Jadwal yang coba saya susun adalah:

    03.30-05.30: Bangun tidur, sholat, tilawah, murojaah dan/ menambah hafalan

    05.30-09.00: Masak, sarapan, nyuci pakaian, memandikan anak-anak, sholat dhuha, marketting dagangan

    09.00-11.00: Bermain dengan anak

    11.00-14.00: Ishoma, marketting dagangan, (anak-anak tidur siang)

    14.00-15.30: Baca buku ( anak-anak bermain bebas)

    15.30-17.00: Sholat ashar, memandikan anak-anak, makan sore, mem-follow up penjualan

    17.00-18.00: Mengajak anak main keluar rumah sambil bersosialisasi dengan tetangga

    18.00-19.30: Sholat, ngelonin anak, membaca buku bersama

    19.30-20.00: Sholat isya, menyelesaikan target tilawah harian

    20.00-21.30: Membaca buku, baca sumber ilmu lainnya (whatsapp, dll), menulis, dll
    Kelima, jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

    Karena kami masih tinggal bersama orang tua kami, hal ini (agenda yang tidak terencana) seringkali terjadi. Tapi ketika saya memungkinkan untuk menolak, ya saya tolak. Tapi ada juga yang kadang tidak bisa ditolak, karena alasan tertentu.
    Keenam, setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)

    InsyaAllah saya akan mencoba memberi ‘kandang waktu’ 9 to 6

    Jam 9 pagi-aktivitas dinamis- jam 6 sore
    Ketujuh, amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?

    InsyaAllah akan diamati.

    Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan tiga bulan.
    Salam (calon) Ibu Profesional,
    Ade Yuniarti

    Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

    NHW#5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

    Menjadi ibu itu memang takdir, tapi berusaha belajar menjadi ibu sebagaimana ibu yang semestinya itu pilihan.”



    Belajar menjadi kebutuhan setiap individu, terlebih bagi seorang ibu. Perubahan status menjadi ibu menuntut banyak hal yang harus dipelajari, meng-upgrade terus apa yang sudah dipelajari, karena selain ilmu yang terus berkembang, anak-anak pun juga terus bertumbuh dan berkembang. Alangkah baiknya jika dibarengi dengan ilmu yang mumpuni.

    Akankah lebih efektifnya jika kita memahami bagaimana cara yang paling efektif kita belajar? Nah, di NHW#5 kali ini kami dibimbing kembali untuk belajar bagaimana caranya belajar yang sesuai dengan diri kami masing-masing.

    Setelah membaca beberapa referensi online dapat saya simpulkan bahwa desain pembelajaran merupakan salah satu upaya pengajar untuk membuat proses transfer pengetahuan kepada peserta ajar menjadi lebih efektif, dengan mengenali ‘kekuatan’ peserta ajar untuk mencari metode pengajaran yang tepat. Kira-kira demikian yang saya pahami. 

    Kali ini kami mencoba membuat desain pembelajaran bagi diri kami sendiri, sebelum nanti akhirnya kami membuat desain pembelajaran untuk anak-anak kami. Yang pertama kali saya lakukan adalah memahami gaya belajar saya sendiri. Mengingat-ngingat dulu jaman sekolah dan kuliah kalau sedang belajar saya ‘mengurung’ diri di kamar. Tidak boleh ada yg mengganggu ataupun suara gaduh. Cara saya belajar dengan membaca, memahami satu per satu kalimatnya, dan lalu dibuatkan semacam mind mapping atau tabel, sehingga saya lebih mudah memahami apa yang sudah saya pelajari. Selain itu saya juga suka menempelkan berbagai rumus di dinding kamar, sehingga sering saya lihat dan mudah bagi saya untuk me-refresh-kan lagi hal itu dalam ingatan saya, karena saya yang sangat pelupa. Dengan gaya yang demikian, berarti dapat disimpulkan bahwa  gaya belajar saya termasuk visual.

    Untuk menekuni jurusan ilmu yang telah saya pilih, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini, saya merencanakan untuk belajar mandiri dengan membaca buku,membaca berbagai referensi online, mengikuti kuliah online ataupun offline yang berkaitan dengan pendidikan anak dan tour the talents, yaitu belajar langsung kepada pelaku pendidikan. Dan tidak menutup kemungkinan jika ada kesempatan belajar pada masa depan saya juga ingin mendalami ilmu ini di bangku kuliah. InsyaAllah.. Aamiin..

    Desain pembelajaran yang akan saya terapkan polanya hampir sama pada setiap media pembelajaran, sesuai dengan gaya belajar saya, yaitu:

    Baca Buku

    • Menetapkan target waktu diselesaikannya buku
    • Membaca buku ➡ Membuat resume/mind map/tabel ➡ Menuliskan poin-poin penting dan menempelnya di sekitar kamar ➡ Memraktekkan dalam kehidupan sehari-hari➡ Evaluasi
    • Menuliskan apa yang sudah dipraktekkan dan hasilnya
    • Mem-posting tulisan di blog pribadi

    Baca Referensi Online

    • S.d.a

    Kuliah Online/Offline

    • Membuat catatan yang detail dari perkuliahan dan jika memungkinkan meminta soft file/hard file materinya
    • Mempelajari kembali di rumah
    • Membuat resume/mind map/tabel ➡ Menuliskan poin-poin penting dan menempelnya di sekitar kamar ➡ Memraktekkan dalam kehidupan sehari-hari➡ Evaluasi
    • Menuliskan apa yang sudah dipraktekkan dan hasilnya
    • Mem-posting tulisan di blog pribadi

    Tour The Talents

    • Me- list daftar nama tokoh pendidikan yang ingin dikunjungi
    • Menetapkan target per tahun (misalnya 3-5 tokoh yang dikunjungi pada tahun ini)
    • Merekam pembicaraan jika diijinkan pembicara
    • Mencatat poin-poin penting
    • Merapikan kembali catatan agar menjadi kalimat-kalimat yang lebih mudah dipahami
    • Membuat resume/mind map/tabel ➡ Menuliskan poin-poin penting dan menempelnya di sekitar kamar ➡ Memraktekkan dalam kehidupan sehari-hari➡ Evaluasi
    • Menuliskan apa yang sudah dipraktekkan dan hasilnya
    • Mem-posting tulisan di blog pribadi

    Demikian rencana desain pembelajaran yang coba saya buat, semoga bisa dipraktekkan dengan penuh kesungguhan. InsyaAllah..


    Salam (calon) Ibu Profesional,
    Ade Yuniarti

    Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

    NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

    Sekarang buatlah sejarah Anda sendiri. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 Anda.”

    a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
    Tidak, saya merasa tidak salah jurusan. Saya tetap tertarik dengan dunia masak-memasak.Tapi sepertinya masak-memasak ini hanya untuk keperluan pribadi. Dan saya perlu mencari bidang lain yang juga saya sukai dan ingin saya tekuni dan saya ingin membaginya kepada orang lain. Yaitu saya ingin menekuni dunia pendidikan anak usia dini.
    b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

    Saya belum berusaha keras dan cerdas untuk memenuhi checklist harian yang sudah saya buat. Menuliskannya di kertas dan menempelnya di lemari kamar agar lebih mudah terlihat dan menjadi pengingat sudah terpikirkan, tapi belum juga sempat direalisasikan.
    c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

    Bidang pelajaran yang paling membuat berbinar-binar adalah “Pendidikan Anak Usia Dini”, karena ilmu ini yang saya butuhkan saat ini dalam mengasuh dan mendidik putra-putri kami.

    Misi Hidup : membagikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, terutama ibu-ibu.

    Bidang : Pendidikan Anak Usia Dini

    Peran : Daiyah/Fasilitator/Guru
    d. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

    Sayang Anak:

    •  Ilmu-ilmu tentang milestone pertumbuhan anak
    • Ilmu-ilmu seputar “Bagaimana menyusun kurikulum untuk mendidik anak di rumah”
    • Ilmu-ilmu seputar cara menggali minat dan bakat anak.
    • Ilmu-ilmu seputar cara mengajarkan anak kemandirian, kemandirian finansial dll.
    • Ilmu-ilmu tentang pendidikan anak sesuai fitrahnya
    • Ilmu-ilmu tentang pendidikan anak  ditinjau dari sudut pandang islam.
    • Ilmu-tentang pendidikan anak ditinjau dari sisi psikologi.
    • Ilmu-ilmu tentang pendidikan anak dari segi kesehatan.

    Bunda Cerdas:

    • Ilmu-ilmu tentang menejemen pendidikan.

    Bunda Produktif:

    • Ilmu-ilmu tentang menulis ide dan pengalaman.
    • Ilmu-ilmu tentang public speaking.

    Bunda Shaliha:

    • Ilmu-ilmu tentang membangun komunitas.
    • Ilmu-ilmu tentang pemberdayaan masyarakat
    • Ilmu tentang membangun sekolah

    d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
     

    Milestone  yang coba saya buat:

    Tahun 1-3:  Menguasai Ilmu seputar Sayang Anak

    Tahun 3-5 : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cerdas

    Tahun 5-6 : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif

    Tahum 6-8 : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaliha
    e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

    Baik. Sudah dicantumkan.
    f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan
    Mohon dimaafkan atas keterlambatan pengumpulan tugas kali ini.

    Salam (calon) Ibu Profesional,

    Ade Yuniarti

    Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

    NHW#3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah Kelas Matrikulasi IIP Batch 3

    Mempunyai sebuah keluarga yang dikarunia dua orang anak dalam tiga tahun pernikahan adalah nikmat yang luar biasa. Alhamdulillah.. Proses mengenali pasangan, proses belajar menjadi istri yang layak dicintai, proses menjadi ibu semua dijalani berbarengan. Terasa tidak cukup waktu yang diberikan. Belum juga ‘cocok’ dengan pasangan, sudah harus pula menjalani peran baru sebagai ibu. Tapi semua harus dihadapi, dijalani, disyukuri, harus berjalan maju, bukan mundur ke belakang, sambil terus memperbaiki dan mempelajari apa yang perlu diperbaiki. 

    Alhamdulillah di kelas matrikulasi ini kami benar-benar dibimbing untuk memperbaiki yang perlu diperbaiki, menggali apa yang harus digali. Membaca, berdiskusi, berfikir dengan hati, menuliskan dengan nurani, berbagi. Lagi dan lagi. Semoga ini menjadi titik awal keluarga kami menjadi keluarga yang lebih berkualitas, dapat menjadi salah satu pondasi peradaban dan mampu bermanfaat bagi sekitar. Aamiin..

    Tugas pada NHW#3 ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

    🌸 Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami. 🌸

    Surat cinta sudah diposting pada postingan sebelumnya. Alhamdulillah suami merespon dengan dua kalimat mujarab, yaitu “Maafin Cepi yaaa” dan “Cepi sayang kalian”. Sudah begitu saja. Dua kalimat pendek yang sudah mampu membuat saya meleleh. 😀

    🌸Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.🌸

    Alhamdulillah kami sudah dikaruniai dua orang anak. Yang pertama seorang perempuan, bernama Kinanti Shaliha Aridhalillah (24 bulan) dan yang kedua Rabbani Waliyuddin Kholid (3 bulan). Sependek pengamatan saya hingga saat ini Kinanti termasuk tipe kinestetik. Hobinya adalah jalan-jalan. Ia mampu berjalan kaki hingga dua jam bahkan lebih berkeliling komplek. Selain itu dia sangat tertarik mengendarai mobil-mobilan plastik yang jalannya dengan  mendorongkan kedua kakinya. Binar matanya pun sangat jelas terlihat ketika hujan turun dan dia pasti minta mandi hujan. Sorak-sorainya pun begitu lantang saat bermain, berlari mengejar bola. Energinya yang luar biasa, yang tidak habis-habis seharian perlu disalurkan ke kegiatan-kegiatan fisik yang bermanfaat yang mampu menyalurkan energinya tersebut.

    Untuk anak kedua kami, Rabbani (3 bulan) saya belum mampu menganalisa apa potensinya.

    🌸 Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.🌸

    Bicara tentang diri sendiri adalah hal yang sulit menurut saya. Apakah ini tandanya saya tidak mengenali diri saya? Tapi saya akan tetap berusaha menuliskannya semampu saya.

    Saya tidak bisa memasak, tapi saya selalu suka mencoba memasak dan mencoba berbagai resep masakan. Mungkin mata saya berbinar ketika memasak, dan perasaan bahagia melanda ketika hasil masakan saya terlahab habis oleh yang menikmatinya. Meski lelah, tapi bahagia yang dirasa.

    Selain itu saya selalu ingin belajar tahsin di setiap ada kesempatan. Terakhir saya mengajak teman-teman kantor saya untuk belajar tahsin bersama selepas jam kantor. Alhamdulillah terlaksana, tapi karena gurunya laki-laki, jadi kami hanya belajar teorinya saja, tidak ada praktek satu-persatu yang dikoreksi oleh sang guru. Saya merasa bacaan Al-Qur’an saya masih belum sempurna dan ingin belajar, belajar dan belajar lagi. Saya ingin mempelajarinya secara paripurna hingga bacaan saya benar dan baik, sehingga saya layak mengajarkan Al-Qur’an. Keinginan untuk terjun ke masyarakat sekitar, membimbing anak-anak belajar membaca Al-Qur’an adalah salah satu impian saya sejak masih duduk di bangku kuliah. Tapi perasaan belum benar dan baiknya bacaan Al-Qur’an saya maka niat itu saya urungkan, dan masih tertunda sampai sekarang. Saya berharap semoga impian ini tidak lama lagi dapat terwujud. Aamiin..

    Berkumpul dan belajar bersama adalah satu kegiatan baru yang sangat saya nikmati setelah menjadi ibu. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bertemu, bertatap wajah dengan ibu-ibu pencari ilmu. Perasaan bahagia membuncah ketika waktunya belajar tiba. Ini benar-benar terasa sebagai me time saya, meski masih digelendotin anak-anak. Saya ingin mempraktekkan ilmu-ilmu yang saya dapat di kelas dan dari buku yang saya baca dan juga membaginya. Saya ingin ibu-ibu lain mengetahui apa yang saya tahu. Saya ingin ibu-ibu yang lain juga punya keinginan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam mengasuh anak, meski saya pun belum sempurna dan masih terus belajar. Harapannya agar tercipta komunitas yang baik, yang se-visi  di sekitar kita. Karena membangun lingkungan yang baik tidak bisa sendiri, harus bersama-sama.

    🌸 Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini? 🌸

    Karena berbagai kondisi dan alasan, sampai saat ini kami masih menumpang di rumah ibu saya. Dengan kondisi harus LDM-an dengan suami saya. Saya dan anak-anak tinggal di Bekasi, sedangkan suami saya tinggal di kantornya di Tangerang. Bertemu hanya saat weekend saja.

    Awalnya saya kurang menerima hal ini. Tentu tidak ada orang yang ingin berpisah setelah menikah, kalau bisa ingin selalu bersama, berdua melalui hari mendidik sang buah hati. Tapi setelah dijalani dan dihadapi dua tahun lebih ini saya baru mengerti dan memahami maksud suami saya. Ia ingin kami berada di sini untuk orang tua saya. Inilah tantangan utama keluarga kami. Di keluarga (orang tua) saya ada sedikit masalah yang berhasil membuat kondisi di rumah jadi kurang hommy, suami saya ingin kami mengambil peran di sini agar rumah bisa kembali pada fungsi sebenarnya. Tapi saya terlambat ngeh, saya terlalu acuh, tidak sensitif, saya terlalu berlarut terhadap keinginan saya untuk tinggal satu atap bersama suami saya. Sampai akhirnya ayah saya meninggal dunia bulan Agustus lalu. Tidak banyak yang sudah saya lakukan untuk membahagiakan ayah saya. Ini adalah kekecewaan besar saya pada diri saya sendiri. Semoga Allah mengampuni kelalaian saya. Alhamdulillah kehadiran cucunya, anak kami, Kinanti, sempat menghadirkan kebahagiaan tersendiri baginya. Kinanti sempat menjadi penghibur opanya. Ini salah satu maksud suami saya yang terlambat saya sadari.

    Sepeninggalan ayah saya bukan berarti masalah itu selesai. Beban tanggung jawab moril yang harus dipikul ibu saya menjadi semakin berat. Harusnya kami saling bahu-membahu dalam membimbing adik-adik kami. Jika ibu saya berkemampuan di ‘hard skillnya’, harusnya saya mengambil peran di ‘soft skillnya’. Apa yang dimaksud hard dan soft skill disini mohon maaf tidak bisa saya jelaskan. Tapi insyaAllah saya sudah paham peran apa yang harus saya ambil di keluarga ini.

    Meski sudah lama kami tinggal di rumah ibu saya, saya masih berharap akan segera pindah ke Tangerang bersama suami sesegera mungkin. Fikiran ini membuat saya enggan nyemplung ke kegiatan-kegiatan sosial yang ada di lingkungan sini. Berpartisipasi sekedarnya saja. Selain itu sebagian besar warga yang tinggal di sini sudah sepuh, bukan keluarga-keluarga muda yang usianya sepantaran dengan saya, sehingga membuat saya segan untuk mengambil peran. “Saya ingin membangun lingkungan saya, tapi tidak disini, nanti kalau kami sudah pindah ke Tangerang”, begitu fikirku. Hal ini membuat saya menjadi warga yang ‘biasa saja’, minim manfaat dan partisipasi. InsyaAllah saya akan mencoba untuk lebih memberdayakan diri saya lagi. Saya ingin membagi apa yang saya tahu. Saya ingin diri saya bermanfaat dan ‘dimanfaatkan’ di sini. Keinginan untuk berbagi mengenai MPASI anak yang sesuai dengan rekomendasi WHO (World Health Organization) dan tentang kesehatan anak sebenarnya sudah ada dari dulu, sejak saya mempelajari ilmu-ilmu ini untuk anak pertama kami,tapi saya belum berani menawarkan diri ke ibu-ibu PKK yang menangani program posyandu. Membagi apa yang saya tahu, bukan lagi menunggu saya menjadi ahlinya dulu baru berbagi. InsyaAllah..

    🌸Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.🌸 

    InsyaAllah sudah terbayang akan dan ingin mengambil peran apa keluarga kami ini. Semoga saya dan suami bisa bersinergi, saling menguatkan dan mengokohkan, bukan menjatuhkan. Semoga suami saya mau mendengarkan dengan baik apa yang sudah saya pelajari di sini dan mau terlibat aktif merapikan visi bersama kembali dan mengejewantahkannya dalam dunia nyata. Aamiin.

     Alhamdulillah rampung juga tugas NHW#3 ini semoga menjadi langkah awal penyadaran potensi dan peran diri ini. Aamiin..


    Salam (Calon) Ibu Profesional

    Ade Yuniarti

    Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

    Untukmu Lelakiku

    Aku tidak pernah tahu persis kapan rasa itu hadir. Saat kau membawakanku oleh-oleh batagor kingsley atau saat kau iseng melemparku dengan buntalan kertas atau mungkin saat aku kesal mendorong kursi beroda yang menyangga badanmu saat kau tidur di kantor kita, atau bahkan saat kau menawarkan diri untuk menjadi suamiku dan kutolak mentah-mentah? Ah aku benar-benar tidak tahu.

    Ku ingat dulu aku pernah berkata pada kawan yang iseng ‘mempromosikanmu’ kepadaku “Gue ga akan nikah sama dia, la” jawabku tegas. Ah sombongnya aku. Aku tidak tahu ternyata namamulah yang telah tercatat di sana sebagai pendampingku. Namamulah yang ternyata menjadi penggenap huruf ‘Y’ yang ku buat menyerupai bentuk separuh hati dan membutuhkan huruf ‘C’ untuk membuat hatinya utuh. “Nama laki-laki dengan inisial ‘C’ itu jarang sekali, susah nyarinya,” begitu dulu fikirku. Ah sotoynya aku. Apalah yang sulit bagi Allah untuk menyatukan kedua hamba-Nya? 

    Aku tidak tahu bagaimana bisa akhirnya aku menerima tawaranmu untuk menjadi suamiku. Semua berjalan begitu saja. Aku tidak menjawab ‘aku mau’, tapi ku ceritakan tentangmu dan niat baikmu kepada ayahandaku. Aku tidak menjawab pertanyaanmu, tapi kuberikan alamat rumahku dan no handphone ibundaku padamu. Aku tidak menjawab pertanyaanmu, tapi aku terus bertanya pada Yang Maha ‘Apakah kamu jodohku?’.

    Bahkan setelah kita menikahpun aku masih sering bertanya ‘Mengapa kamu yang jadi jodohku?’, ‘Apa maksud Allah menyatukan kita, padahal kita sangat berbeda?’, ‘Apakah aku bisa menghabiskan sisa usiaku bersamamu?’, bahkan pertanyaan dasar ‘Apakah kamu mencintaiku?’ masih juga ku pertanyakan. Ah maafkan aku, maafkan kebodohanku yang masih juga meragukanmu.

    Menuju tiga tahun pernikahan kita lambat laun aku mulai mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu. Aku mulai bisa memahami karaktermu yang tidak romantis, tapi praktis. Menerjemahkan cinta lewat karya bukan hanya kata. Aku mulai bisa memahami mengapa Allah memilihkanmu untukku. Aku mulai bisa memaklumi jalan fikirmu yang sulit dan berliku, sehingga kadang tak mampu ku tempuh.

    Ay, terimakasih atas semuanya.. Terimakasih atas segala perjuangan dan pengorbananmu. Terimakasih atas kesabaranmu membimbingku. Terimakasih atas kerasmu mendidik kami. Terimakasih atas kelapanganmu menerima kengeyelanku. Terimakasih atas kelapangan hatimu menerima kekerasan kepalaku. Mohon maaf atas segala hak yang tidak tertunaikan. Mohon maaf atas seringnya mengecewakan. Mohon maaf atas kelalaian diri mengasuh dengan baik sang buah hati.

    I’m proud of you and I’m proud to be yours..

    I love you now and till jannah insyaAllah.. Aamiin

    Dipublikasi di Keluarga | Tag | 4 Komentar